MENIMANG-NIMANG CINTA
Cinta adalah teologi teragung. Semua pencarian dan pencapaian keagamaan akan berujung pada cinta. Cinta adalah kristalisasi etika. Semua perilaku mulia, hasil perasannya adalah cinta. Cinta adalah wujud estetika. Karena semua keindahan dilahirkan dalam cinta. Cinta adalah kidung agung. Semua orang ingin menghayati dan mendendangkannya. Tidak ada satu kehidupanpun di muka bumi ini yang bisa survive tanpa cinta. Di dalam cinta terangkum semua kekuatan dan kehidupan.Oleh karenanya cinta akan tetap menjadi bahan yang menarik untuk dikhotbahkan, diulas, dipuisikan, dilagukan, ditelenovelakan, disinetronkan atau sekedar menjadi bahan obrolan. Ia menjadi kisah kiasik yang tidak pernah usang.
Cinta, Apaan Tuh?
Dalam suatu acara makan pagi, seorang pemuda menyampaikan keinginan hatinya, “Pa, saya mau menikah!”. Sambil sesekali mengelap mulutnya, ayahnya menatap anaknya. “Kamu serius!”. Anggukan kepala cukup meyakinkan kesungguhannya. “Apakah kamu sungguh-sungguh mencintainya?”. Sekali lagi pemuda itu mengangguk, “Saya sangat mencintainya pa!”. Papanya terdiam sejenak. “Bagaimana kamu tahu kalau kau sungguh mencintainya, nak?”. Dengan penuh keyakinan pemuda ini menceritakan kepada papanya. “Pa, kemarin saya apel ke rumah pacar saya. Pada waktu saya ngobrol dengan pacar saya, tidak sengaja saya menginjak anjingnya yang duduk di bawah saya. Saya digigit!” “Lantas, apa hubungannya dengan cinta?”, potong ayahnya. “Pa, ketika saya dekat dengan pacar saya, saya tidak merasakan kesakitan apapun, meskipun kaki saya berdarah”.Untuk mengerti tentang cinta, tanyakanlah pada sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran. Meski berjalan diterik matahari, mereka bilang seperti berjalan di mall ber-AC. Tidak bertemu sehari dibilang seperti setahun rasanya. Pantaslah sebuah nyanyian campursari menggambarkan cinta itu seperti “Wong yen lagi gandrung, rak peduli mbledhose gunung” (Orang yang sedang jatuh cinta, tidak peduli letusan gunung berapi). Benarlah bahwa sandiwara yang paling lucu adalah permainan sepasang insan yang sedang ‘gandrung’. Ketiak bau dibilang wangi, masakan asin dirasakan enak tenan, wajah penuh jerawat dilihatnya mulus, gembrot dibilang langsing, berjam-jam apel dikira sebentar sehingga Agur bin Yake dan Masa menempatkannya sebagai perkara yang sulit dimengerti dan mengherankan.
Juga tanyakanlah pada seorang anak yang merasa nyaman dalam dekapan ibunya. Meski hujan deras menghempas, bersambar-sambaran bunyi petir dikawal kilat, ía terlelap tidur dalam gendongan ibunya. Tanyakan juga pada orangtua yang semalaman menunggui anaknya sakit. Sementara orang sedang dibuai oleh mimpi, mereka tetap terjaga sekalipun rasa kantuk dan kelelahan menggodanya untuk tidur. Pendek kata, cinta adalah kekuatan yang sanggup meluruskan watak yang bengkok, kekuatan yang mengubah si kikir menjadi pemurah, si pengecut menjadi pemberani; kekuatan yang memberi daya untuk bertahan mengatasi kesulitan, rasa sakit, tantangan atau penderitaan hidup; serta kekuatan yang mampu memperlihatkan pengaruh-pengaruh yang nyata dari orang yang dicintainya; kekuatan yang menghadirkan kehidupan, keagungan, kemesraan, keindahan, keanggunan dan kerinduan.Tetapi cinta juga bisa bersifat paradoksal. Sepasang muda-mudi sedang berpacaran. Orientasi pacarannya diarahkan kepada seperangkat kegiatan: nonton film, rekreasi, makan bersama, jalan-jalan, pokoknya inginnya selalu berdua-duaan. Ketika tiba waktunya ulangan atau semesteran, jurus SKS (sistem kebut semalam) dikeluarkan. Hasilnya, nilai jeblok dan gagal sekolah atau kuliah. Di sini cinta sudah berubah menjadi biang kerok kegagalan belajar. Lebih bahaya lagi kalau dalam pacaran orientasi cintanya diarahkan kepada pengenalan fisik atau kemesraan. Padahal yang namanya pengenalan fisik tidak pernah mengenal kata cukup. Hari ini berpegangan tangan, besok berangkulan, lain hari berpelukan dan akhirnya kebablasan. Hasilnya, indeks prestasi mahasiswa berupa kelahiran jabang bayi. Masya Allah. Lalu lakon kehidupannya diganti dengan “Pernikahan Dini”. Sekarang cinta dituduh sebagai biang keladi keruntuhan moral. Ceritanya akan sama dengan kasus Ambon, Sampit, Sambas dst. Cinta kepada sesama anggota suku, ras, agama, mengasilkan lingkaran kekerasan dan pertumpahan darah.Dalam perasaan ambigu kita bisa berkata, “Cinta, Apaan Tuh!”. Karena di dalam cinta akan berhadap-hadapan dua realitas kontradiktif: antara kehidupan atau kematian, kedamaian atau peperangan, kekuatan atau kelemahan, perubahan atau perusakan dan seterusnya. Tergantung cinta apa yang kita gemakan dan tebarkan dalam hidup ini.
Faset Cinta
Konsep cinta dalam bahasa Ibrani apakah yang insani atau Illahi merupakan ungkapan yang paling untuk menjelaskan sebuah hubungan pribadi yang paling akrab dan dekat. Sebuah kekuatan dan dalam yang mendorong untuk melakukan suatu tindakan yang mendatangkan kegembiraan, membangkitkan hasrat dan semangat. Didalamnya sarat dengan tindakan pengorbanan diri untuk orang yang dikasihi dan ketaatan yang tulus.
Dalam bahasa Gerika terdapat 4 faset kata cinta. Pertama, eros yang digunakan untuk mengekspresikan cinta yang memiliki (possessive love) dan ketertarikan akan pesona fisik seseorang. Cinta jenis inilah yang menyebabkan seorang pria tertarik pada gadis yang cantik, memiliki lesung pipit, gigi gingsul, tinggi semampai, rambut anti ketombe, kulit putih, mata indah bola pingpong dsb. Dan seorang wanita terpesona pada pria karena ketampanan, kegagahan, tinggi atletis dst. Normal! Cinta ini juga penting dikembangkan dalam hubungan keluarga, pergaulan muda/i maupun pergaulan sosial. Berusaha menampilkan diri prima dengan menjaga dan merawat fisik sebaik mungkin, akan menolong kemesraan dalam keluarga. Suami istn mengagumi pasangannya dan menjadi semakin betah di rumah. Lengket kayak perangko! Coba bayangkan! Kalau suami pulang kerja disambut istrinya yang sejam lalu berdandan secantik mungkin khusus untuk menyambut suaminya. Saya jamin pasti suami akan memuji, “Mam, hari ini mama tampak cantik sekali!”. Si istri yang dipuji akan ‘klesam-klesem’ bangga. Si suami pada waktu makanpun lebih bergairah. Nasi satu bakulpun bisa habis karena pengaruh penampilan istri. Dunia kadang berbalik! Kalau ada rencana mau mendatangi resepsi atau pesta, ibu-ibu dan bapak-bapak berdandannya berjam-jam. Wajah didekorasi meriah. Tetapi kalau di rumah, amit amit, apa yang namanya menjaga dan merawat tubuh diabaikan. Bangun siang, jarang mandi dan sikat gigi, makan tiada batas, pria-priapun ikut-ikutan hamil, wanita yang maktu menikah nampak langsing sekarang berubah langsung alias gede pipi, gede lengan, gede pinggang, gede perut. Hati-hati! Bisa-bisa pasangan anda malas pulang karena lebih betah memandangi sekretaris atau pegawainya yang GL (gile langsingnya).
Cinta erotis akan menjadi persoalan dalam hidup bilamana pasangan hanya mengenal fisikl atau materi daripada totalitas hidup pasangannya. Inilah yang menyebabkan kekosongan hidup yang pada gilirannya memberikan sumbangan besar pada ketidakpercayaan, konflik, kekacauan sampai putusnya hubungan. Kecenderungan negatif lainnya adalah keinginan untuk menguasai atau memiliki. Sehingga pada dasarnya ketika seseorang mengatakan, “Aku mencintaimu” sebenarnya ia sedang berkata, “Cintailah aku”. Sifat egoisme (dengan motif-motif yang tidak kudus) ini akhirnya menghasilkan pemaksaan kehendak. Terciptalah relasi superior-inferior. Dalam dunia pacaran yang kalah akan mengalami: putus hubungan dengan nyamuk (putus pacar), menyerahkan kegadisan atau keperjakaan, hamil, prestasi menurun dlsb. Di dalam keluarga, pihak-pihak inferior akan menjadi: budak nafsu atau pengiya kehendak tuan (bisa suami dan bisa istri tergantung siapa yang dominan dalam keluarga). Pendek kata, cinta eros memiliki kerentanan dalam upaya pembangunan sebuah relasi yang kuat.
Kedua, kata phileo yaitu rasa sayang yang muncul dalam hubungannya dengan persahabatan. Itulah sebabnya dari kata ini muncul tuturan kata seperti philos (teman), philia (persahabatan). Ini adalah cinta yang dibangun karena kehangatan, keakraban dan kebaikan. Cinta ini dibangun dari sebuah upaya dan keduabelah pihak untuk membuka diri serta kesediaan untuk saling menerima. Cinta ini juga dikuatkan dengan usaha masing-masing pihak memberikan kebaikan (pengorbanan, nasihat, masukan, pengertian dli) bagi relasi itu sendiri. Cinta inilah yang menjadikan relasi seseorang demikian akrab dan erat. Seseorang merasa kehadirannya diterima, diakui, dimengerti dan didengarkan dalam persahabatan. Kadang kepada orangtua si anak menutup diri, tetapi kepada sahabatnya ia mencurahkan isi hatinya. Kadang di rumah seorang anak tampak pendiam, tetapi dengan sahabatnya ia bercerita banyak hal. Tetapi cinta phileo juga rentan terhadap permasalahan. Persahabatan itu akan memberii dampak positif atau negatif tergantung karakter/kedewasaan orang kepada siapa kita bersahabat. Seseorang bisa mendapatkan dampak yang besar dari persahabatan jikalau sahabat kita memiliki kualitas hidup. Sebaiiknya seseorang bisa menjadi pezinah, pemabuk, perokok, pencuri dst. Jikalau sahabatnya hidup dalam pola dan gaya hidup di atas. Selain itu, persahabatan mudah putus kalau masing-masing pihak tidak menjaga prasyarat yang dimungkinkan dalam persahabatan.
Ketiga, storge yaitu perasaan kasih sayang yang muncul dalam keluarga. Cinta inilah yang membuat para ibu kelelahan sepanjang hari: bangun fajar mendoakan keluarga, menyiapkan makanan, mencuci pakaian, membersihkan rumah, menolong persiapan sekolah anak dan melayani suami. Cinta storge mendorong pria selain membantu pekerjaan rumah, ia bekerja keras untuk kelangsungan hidup keluarganya. Pendek kata, cinta ini menyebabkan semua anggota keluarga memiliki kekuatan untuk menjalankan fungsinya masing-masing dalam keluarga, serta berkomitmen menjaga keharmonisan dan kekokohan keluarga. Tetapi kasih inipun memiliki hubungan sebab akibat.
Keempat, agape, secara mendasar berarti cinta yang memberikan diri (self-giving love) bukan karena kebaikan atau jasa orang yang dicintai. Kasih yang paling tinggi dan mulia yang melihat suatu nilai yang tidak terbatas pada obyek cintanya. Inilah cinta yang dimiliki Allah, karena cinta itu merupakan hakikat Allah sendiri. Allah yang adalah cinta itu membahasakan cintanya dengan pengorbanan dan pemberian Diri. Nampak dari tindakan penyelamatan dan pembebasan manusia. Pelayanan kesembuhan, mengampuni orang berdosa, mengusir setan, membangkitkan orang mati, bersahabatan dengan pemungut cukai, mengampuni orang-orang yang berbuat jahat, kerelaan untuk mati bagi penebusan dosa manusia adalah wujud cinta-Nya. Tak ada sedikitpun kebaikan atau jasa manusia yang menjadikan Allah mau berkorban. Ia lakukan semata demi cinta. Cinta inilah yang sering diformulasikan sebagai ‘Aku mencintaimu walaupun….”Menterjemahkan CintaBangunan hidup akan kokoh bila cinta tertinggi ini diterjemahkan dalam tindakan yang penuh pengorbanan. Hidup yang memberi dan mengampuni tanpa mendasarkan kelayakan orang yang menjadi obyek cinta itu. Relasi yang disentuh dengan cinta di dalamnya pasti sarat dengan nilai karakter mulia. Karena cinta itu sendiri merangkum semua karakter agung. Bukankah ini yang dibutuhkan manusia?
Yohanes Prapto Basuki, M.A.
Cinta adalah teologi teragung. Semua pencarian dan pencapaian keagamaan akan berujung pada cinta. Cinta adalah kristalisasi etika. Semua perilaku mulia, hasil perasannya adalah cinta. Cinta adalah wujud estetika. Karena semua keindahan dilahirkan dalam cinta. Cinta adalah kidung agung. Semua orang ingin menghayati dan mendendangkannya. Tidak ada satu kehidupanpun di muka bumi ini yang bisa survive tanpa cinta. Di dalam cinta terangkum semua kekuatan dan kehidupan.Oleh karenanya cinta akan tetap menjadi bahan yang menarik untuk dikhotbahkan, diulas, dipuisikan, dilagukan, ditelenovelakan, disinetronkan atau sekedar menjadi bahan obrolan. Ia menjadi kisah kiasik yang tidak pernah usang.
Cinta, Apaan Tuh?
Dalam suatu acara makan pagi, seorang pemuda menyampaikan keinginan hatinya, “Pa, saya mau menikah!”. Sambil sesekali mengelap mulutnya, ayahnya menatap anaknya. “Kamu serius!”. Anggukan kepala cukup meyakinkan kesungguhannya. “Apakah kamu sungguh-sungguh mencintainya?”. Sekali lagi pemuda itu mengangguk, “Saya sangat mencintainya pa!”. Papanya terdiam sejenak. “Bagaimana kamu tahu kalau kau sungguh mencintainya, nak?”. Dengan penuh keyakinan pemuda ini menceritakan kepada papanya. “Pa, kemarin saya apel ke rumah pacar saya. Pada waktu saya ngobrol dengan pacar saya, tidak sengaja saya menginjak anjingnya yang duduk di bawah saya. Saya digigit!” “Lantas, apa hubungannya dengan cinta?”, potong ayahnya. “Pa, ketika saya dekat dengan pacar saya, saya tidak merasakan kesakitan apapun, meskipun kaki saya berdarah”.Untuk mengerti tentang cinta, tanyakanlah pada sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran. Meski berjalan diterik matahari, mereka bilang seperti berjalan di mall ber-AC. Tidak bertemu sehari dibilang seperti setahun rasanya. Pantaslah sebuah nyanyian campursari menggambarkan cinta itu seperti “Wong yen lagi gandrung, rak peduli mbledhose gunung” (Orang yang sedang jatuh cinta, tidak peduli letusan gunung berapi). Benarlah bahwa sandiwara yang paling lucu adalah permainan sepasang insan yang sedang ‘gandrung’. Ketiak bau dibilang wangi, masakan asin dirasakan enak tenan, wajah penuh jerawat dilihatnya mulus, gembrot dibilang langsing, berjam-jam apel dikira sebentar sehingga Agur bin Yake dan Masa menempatkannya sebagai perkara yang sulit dimengerti dan mengherankan.
Juga tanyakanlah pada seorang anak yang merasa nyaman dalam dekapan ibunya. Meski hujan deras menghempas, bersambar-sambaran bunyi petir dikawal kilat, ía terlelap tidur dalam gendongan ibunya. Tanyakan juga pada orangtua yang semalaman menunggui anaknya sakit. Sementara orang sedang dibuai oleh mimpi, mereka tetap terjaga sekalipun rasa kantuk dan kelelahan menggodanya untuk tidur. Pendek kata, cinta adalah kekuatan yang sanggup meluruskan watak yang bengkok, kekuatan yang mengubah si kikir menjadi pemurah, si pengecut menjadi pemberani; kekuatan yang memberi daya untuk bertahan mengatasi kesulitan, rasa sakit, tantangan atau penderitaan hidup; serta kekuatan yang mampu memperlihatkan pengaruh-pengaruh yang nyata dari orang yang dicintainya; kekuatan yang menghadirkan kehidupan, keagungan, kemesraan, keindahan, keanggunan dan kerinduan.Tetapi cinta juga bisa bersifat paradoksal. Sepasang muda-mudi sedang berpacaran. Orientasi pacarannya diarahkan kepada seperangkat kegiatan: nonton film, rekreasi, makan bersama, jalan-jalan, pokoknya inginnya selalu berdua-duaan. Ketika tiba waktunya ulangan atau semesteran, jurus SKS (sistem kebut semalam) dikeluarkan. Hasilnya, nilai jeblok dan gagal sekolah atau kuliah. Di sini cinta sudah berubah menjadi biang kerok kegagalan belajar. Lebih bahaya lagi kalau dalam pacaran orientasi cintanya diarahkan kepada pengenalan fisik atau kemesraan. Padahal yang namanya pengenalan fisik tidak pernah mengenal kata cukup. Hari ini berpegangan tangan, besok berangkulan, lain hari berpelukan dan akhirnya kebablasan. Hasilnya, indeks prestasi mahasiswa berupa kelahiran jabang bayi. Masya Allah. Lalu lakon kehidupannya diganti dengan “Pernikahan Dini”. Sekarang cinta dituduh sebagai biang keladi keruntuhan moral. Ceritanya akan sama dengan kasus Ambon, Sampit, Sambas dst. Cinta kepada sesama anggota suku, ras, agama, mengasilkan lingkaran kekerasan dan pertumpahan darah.Dalam perasaan ambigu kita bisa berkata, “Cinta, Apaan Tuh!”. Karena di dalam cinta akan berhadap-hadapan dua realitas kontradiktif: antara kehidupan atau kematian, kedamaian atau peperangan, kekuatan atau kelemahan, perubahan atau perusakan dan seterusnya. Tergantung cinta apa yang kita gemakan dan tebarkan dalam hidup ini.
Faset Cinta
Konsep cinta dalam bahasa Ibrani apakah yang insani atau Illahi merupakan ungkapan yang paling untuk menjelaskan sebuah hubungan pribadi yang paling akrab dan dekat. Sebuah kekuatan dan dalam yang mendorong untuk melakukan suatu tindakan yang mendatangkan kegembiraan, membangkitkan hasrat dan semangat. Didalamnya sarat dengan tindakan pengorbanan diri untuk orang yang dikasihi dan ketaatan yang tulus.
Dalam bahasa Gerika terdapat 4 faset kata cinta. Pertama, eros yang digunakan untuk mengekspresikan cinta yang memiliki (possessive love) dan ketertarikan akan pesona fisik seseorang. Cinta jenis inilah yang menyebabkan seorang pria tertarik pada gadis yang cantik, memiliki lesung pipit, gigi gingsul, tinggi semampai, rambut anti ketombe, kulit putih, mata indah bola pingpong dsb. Dan seorang wanita terpesona pada pria karena ketampanan, kegagahan, tinggi atletis dst. Normal! Cinta ini juga penting dikembangkan dalam hubungan keluarga, pergaulan muda/i maupun pergaulan sosial. Berusaha menampilkan diri prima dengan menjaga dan merawat fisik sebaik mungkin, akan menolong kemesraan dalam keluarga. Suami istn mengagumi pasangannya dan menjadi semakin betah di rumah. Lengket kayak perangko! Coba bayangkan! Kalau suami pulang kerja disambut istrinya yang sejam lalu berdandan secantik mungkin khusus untuk menyambut suaminya. Saya jamin pasti suami akan memuji, “Mam, hari ini mama tampak cantik sekali!”. Si istri yang dipuji akan ‘klesam-klesem’ bangga. Si suami pada waktu makanpun lebih bergairah. Nasi satu bakulpun bisa habis karena pengaruh penampilan istri. Dunia kadang berbalik! Kalau ada rencana mau mendatangi resepsi atau pesta, ibu-ibu dan bapak-bapak berdandannya berjam-jam. Wajah didekorasi meriah. Tetapi kalau di rumah, amit amit, apa yang namanya menjaga dan merawat tubuh diabaikan. Bangun siang, jarang mandi dan sikat gigi, makan tiada batas, pria-priapun ikut-ikutan hamil, wanita yang maktu menikah nampak langsing sekarang berubah langsung alias gede pipi, gede lengan, gede pinggang, gede perut. Hati-hati! Bisa-bisa pasangan anda malas pulang karena lebih betah memandangi sekretaris atau pegawainya yang GL (gile langsingnya).
Cinta erotis akan menjadi persoalan dalam hidup bilamana pasangan hanya mengenal fisikl atau materi daripada totalitas hidup pasangannya. Inilah yang menyebabkan kekosongan hidup yang pada gilirannya memberikan sumbangan besar pada ketidakpercayaan, konflik, kekacauan sampai putusnya hubungan. Kecenderungan negatif lainnya adalah keinginan untuk menguasai atau memiliki. Sehingga pada dasarnya ketika seseorang mengatakan, “Aku mencintaimu” sebenarnya ia sedang berkata, “Cintailah aku”. Sifat egoisme (dengan motif-motif yang tidak kudus) ini akhirnya menghasilkan pemaksaan kehendak. Terciptalah relasi superior-inferior. Dalam dunia pacaran yang kalah akan mengalami: putus hubungan dengan nyamuk (putus pacar), menyerahkan kegadisan atau keperjakaan, hamil, prestasi menurun dlsb. Di dalam keluarga, pihak-pihak inferior akan menjadi: budak nafsu atau pengiya kehendak tuan (bisa suami dan bisa istri tergantung siapa yang dominan dalam keluarga). Pendek kata, cinta eros memiliki kerentanan dalam upaya pembangunan sebuah relasi yang kuat.
Kedua, kata phileo yaitu rasa sayang yang muncul dalam hubungannya dengan persahabatan. Itulah sebabnya dari kata ini muncul tuturan kata seperti philos (teman), philia (persahabatan). Ini adalah cinta yang dibangun karena kehangatan, keakraban dan kebaikan. Cinta ini dibangun dari sebuah upaya dan keduabelah pihak untuk membuka diri serta kesediaan untuk saling menerima. Cinta ini juga dikuatkan dengan usaha masing-masing pihak memberikan kebaikan (pengorbanan, nasihat, masukan, pengertian dli) bagi relasi itu sendiri. Cinta inilah yang menjadikan relasi seseorang demikian akrab dan erat. Seseorang merasa kehadirannya diterima, diakui, dimengerti dan didengarkan dalam persahabatan. Kadang kepada orangtua si anak menutup diri, tetapi kepada sahabatnya ia mencurahkan isi hatinya. Kadang di rumah seorang anak tampak pendiam, tetapi dengan sahabatnya ia bercerita banyak hal. Tetapi cinta phileo juga rentan terhadap permasalahan. Persahabatan itu akan memberii dampak positif atau negatif tergantung karakter/kedewasaan orang kepada siapa kita bersahabat. Seseorang bisa mendapatkan dampak yang besar dari persahabatan jikalau sahabat kita memiliki kualitas hidup. Sebaiiknya seseorang bisa menjadi pezinah, pemabuk, perokok, pencuri dst. Jikalau sahabatnya hidup dalam pola dan gaya hidup di atas. Selain itu, persahabatan mudah putus kalau masing-masing pihak tidak menjaga prasyarat yang dimungkinkan dalam persahabatan.
Ketiga, storge yaitu perasaan kasih sayang yang muncul dalam keluarga. Cinta inilah yang membuat para ibu kelelahan sepanjang hari: bangun fajar mendoakan keluarga, menyiapkan makanan, mencuci pakaian, membersihkan rumah, menolong persiapan sekolah anak dan melayani suami. Cinta storge mendorong pria selain membantu pekerjaan rumah, ia bekerja keras untuk kelangsungan hidup keluarganya. Pendek kata, cinta ini menyebabkan semua anggota keluarga memiliki kekuatan untuk menjalankan fungsinya masing-masing dalam keluarga, serta berkomitmen menjaga keharmonisan dan kekokohan keluarga. Tetapi kasih inipun memiliki hubungan sebab akibat.
Keempat, agape, secara mendasar berarti cinta yang memberikan diri (self-giving love) bukan karena kebaikan atau jasa orang yang dicintai. Kasih yang paling tinggi dan mulia yang melihat suatu nilai yang tidak terbatas pada obyek cintanya. Inilah cinta yang dimiliki Allah, karena cinta itu merupakan hakikat Allah sendiri. Allah yang adalah cinta itu membahasakan cintanya dengan pengorbanan dan pemberian Diri. Nampak dari tindakan penyelamatan dan pembebasan manusia. Pelayanan kesembuhan, mengampuni orang berdosa, mengusir setan, membangkitkan orang mati, bersahabatan dengan pemungut cukai, mengampuni orang-orang yang berbuat jahat, kerelaan untuk mati bagi penebusan dosa manusia adalah wujud cinta-Nya. Tak ada sedikitpun kebaikan atau jasa manusia yang menjadikan Allah mau berkorban. Ia lakukan semata demi cinta. Cinta inilah yang sering diformulasikan sebagai ‘Aku mencintaimu walaupun….”Menterjemahkan CintaBangunan hidup akan kokoh bila cinta tertinggi ini diterjemahkan dalam tindakan yang penuh pengorbanan. Hidup yang memberi dan mengampuni tanpa mendasarkan kelayakan orang yang menjadi obyek cinta itu. Relasi yang disentuh dengan cinta di dalamnya pasti sarat dengan nilai karakter mulia. Karena cinta itu sendiri merangkum semua karakter agung. Bukankah ini yang dibutuhkan manusia?
Yohanes Prapto Basuki, M.A.
